Mentari pagi baru saja merayap naik di balik rimbunnya pepohonan Dusun Sumberwaru, namun atmosfer di tepian saluran irigasi utama sudah bergemuruh oleh gelak tawa dan semangat yang membara. Pemuda Dusun Sumberwaru pagi itu sukses menggelar hajat besar yang sudah lama dinanti-nanti warga: lomba mancing bersama berhadiah utama seekor kambing yang diikat di bawah pohon apokat, kontan menjadi magnet perhatian seluruh peserta.
Sejak pukul satu siang, ratusan pemuda, bapak-bapak, hingga anak-anak tampak tumpah ruah. Joran pancing berbagai jenis berjajar rapi di sepanjang bantaran aliran irigasi, sementara aroma umpan rahasia mulai ditebar menebar wangi khas di udara. Panitia dari kalangan pemuda tampak sibuk mengatur jalannya acara, memastikan setiap peserta menempati lapak masing-masing dengan tertib sambil sesekali melontarkan candaan segar yang mencairkan suasana.
Ketua pemuda Sumberwaru, dalam sambutannya sebelum perlombaan dimulai, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar mencari siapa yang paling jago menarik ikan, melainkan sebuah ikhtiar merajut kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi antarwarga. Di tengah kesibukan harian dan gempuran gawai, acara mancing bersama ini menjadi ruang rekreasi murah meriah yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam satu hobi yang sama.
Begitu pluit tanda dimulainya perlombaan dibunyikan, suasana langsung berubah tegang sekaligus seru. Lemparan joran serentak membelah air, diiringi teriakan riuh penonton di pinggir irigasi saat ada joran yang melengkung tajam tanda ikan menyambar umpan. Ketegangan kian memuncak manakala waktu perlombaan tersisa sepuluh menit terakhir. Para pemancing beradu cepat menarik ikan lele berukuran sekepalan tangan dewasa demi mendulang poin tertinggi, sementara sang kambing sesekali mengembik seolah turut memantau jalannya kompetisi sengit tersebut.Menjelang sore, tirai penutupan acara diwarnai senyum kepuasan saat sang juara utama diumumkan berhasil membawa pulang kambing idaman setelah mengumpulkan total berat ikan terbesar. Gelaran pemuda Sumberwaru ini tidak hanya meninggalkan cerita tentang siapa yang menang, tetapi juga memori hangat tentang indahnya gotong royong dan kebersamaan warga desa yang senantiasa hidup rukun dalam kesederhanaan. Editor, Beny Guntoro